ELIDAY, Program Berdampak Positif Bagi Peserta Didik

Setelah menjalani kegiatan diklat Pendidikan Guru Penggerak selama kurang lebih enam bulan, akhirnya para CGP (Calon Guru Penggerak) akan melanjutkan program yang sudah disusun pada materi terakhir yaitu modul 3.3 tentang program yang berdampak positif bagi murid. Program yang saya rancang bertajuk ELIDAY (English Literacy Day) merupakan salah satu program dari beberapa kegiatan yang sudah saya lakukan selama mengikuti diklat Pendidikan Guru Penggerak. Dalam kegiatan ini murid diberi stimulus atau dorongan untuk menumbuhkan kepemimpinan dengan kegiatan pembiasaan story telling bertema bebas sesuai pilihan murid dalam waktu 2 atau 3 menit di jam pertama secara sentral. Seluruh murid dan warga sekolah ikut mendengarkan. Murid-murid lainnya yang berada di kelas didampingi oleh guru pengampu jam pertama ikut menyimak dan menuliskan ringkasan cerita story telling tersebut. Setelah itu, hasil ringkasan cerita dikumpulkan dan dievaluasi oleh guru mapel Bahasa Inggris. ELIDAY saya rancangkan diadakan secara weekly atau sekali dalam seminggu, tepatnya setiap hari Selasa. Selama ELIDAY, seluruh murid dan guru diwajibkan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Jadi pembiasaan budaya berbahasa Inggris menjadi lebih intensif dengan kegiatan ini. Ide memunculkan program ELIDAY berangkat dari identifikasi visi yang ada pada modul 1.3 tentang visi guru penggerak. Saya melihat kekuatan dan visi sekolah yang mengarah pada Sekolah Bilingual dan Multiple Intelligences. Dan kegiatan ini saya gerakkan secara berkesinambungan dengan diikuti kegiatan lainnya yang mendukung visi Bilingual sekolah. Pembiasaan ELIDAY adalah kombinasi antara penciptaan berbahasa Inggris dan berliterasi. Seperti yang kita ketahui, masih rendahnya kemampuan berbahasa Inggris murid-murid di Indonesia terlihat dari penggunaan Bahasa Inggris di negara kita masih sebagai foreign language. Jika dibandingkan dengan negara tetangga yang sudah menjadikan Bahasa Inggris sebagai second language. Artinya Bahasa Inggris masih menjadi Bahasa asing di Indonesia, bukan bahasa kedua dari bahasa nasional.

Selain itu sesuai dengan ketentuan PISA (Programme Internationale for Student Assessment) yang lebih menekankan pada literasi dan numerasi, penguasaan literasi menjadi bidikan yang harus dikejar oleh pendidik agar kompetensi literasi murid meningkat. Dengan story telling dalam kurun waktu satu kali seminggu, diharapkan ketertarikan membaca murid meningkat seiring dengan kompetensi literasinya. Program ELIDAY yang sudah saya laksanakan selama bulan Juni lalu, mengajak murid untuk menumbuhkan students agency atau kepeminpinan murid dengan memberikan suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan pembelajaran (ownership learning) karena murid boleh memilih cerita yang mereka inginkan dan siapa saja bisa bercerita, tidak hanya milik murid yang pandai speaking saja. Dari program ELIDAY yang sudah berjalan satu bulan ini diharapkan terbentuk budaya positif baru di mana murid akan terbiasa untuk berbicara Bahasa Inggris dan berliterasi. Kegiatan ini juga melatih kepercayaan diri, kemampuan public speaking dan kreativitas murid yang juga menjadi kemampuan Profil Pelajar Pancasila. Dengan merancang program yang berdampak positif bagi murid, diharapkan melahirkan generasi bangsa Indonesia yang mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri, lingkungan sekitar, dan negara. Video aksi nyata dapat disaksikan pada laman berikut https://www.youtube.com/watch?v=XKJWG7mmRck&t=63s dan https://www.youtube.com/watch?v=lWX3ulr91y4&t=39s.

 

Penulis : Asriningsih Nugrahani, M.Hum., SMA Kesatrian 2 Semarang, CGP Angkatan 7 Kota Semarang

Editor  : Nurul Rahmawati, M.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang