Bangun Semangat Toleransi & Kedamaian Dengan Cerita Bergambar

Di SMA Negeri 11 Semarang, mata pelajaran Sosiologi diampu dengan penuh semangat oleh guru inspiratif, Sae Penggalih, S.Pd. Beliau memiliki visi yang kuat untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya menerima perbedaan dan mencegah perundungan. Pendekatan yang dipilih adalah menggunakan cergam atau komik, sehingga siswa dapat dengan lebih kreatif dan menyenangkan menyampaikan pesan-pesan penting ini. Siswa diajak untuk menyadari betapa beragamnya masyarakat dan budaya di sekitar mereka. Mereka juga diajak untuk lebih jauh menggali isu-isu sensitif seperti perbedaan etnis, agama dan fisik. Dengan mengambil pendekatan visual melalui komik, siswa diajak untuk melihat dan merasakan bagaimana perbedaan-perbedaan ini dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Dalam proses pembuatan komik, siswa diberikan kebebasan untuk berkolaborasi dalam kelompok. Setiap kelompok dapat memilih tema yang paling relevan bagi mereka, sesuai dengan pengalaman atau pengamatan mereka dalam kehidupan nyata. Hal ini memberi kesempatan bagi siswa untuk berbicara tentang isu-isu yang mungkin tidak selalu tercakup dalam kurikulum reguler. Salah satu siswa di kelas XI IPS 3, Bagas mengatakan, “Seru sekali, awalnya kami tidak percaya diri dengan gambar kami karena kami sekelompok tidak begitu pintar menggambar,. Tapi Pak Sae terus mendukung dan menjelaskan bahwa yang penting ceritanya bagus, untuk gambar tidak perlu bagus sekali.” Salah satu kelompok memilih untuk mengangkat masalah perbedaan etnis. Mereka dengan cermat menyusun cerita bergambar yang menggambarkan bagaimana masyarakat berbeda etnis dapat hidup berdampingan dengan harmonis. Melalui komik tersebut, mereka menunjukkan bahwa perbedaan etnis tidak harus menjadi hambatan untuk saling memahami dan menghormati.

Kelompok lainnya memilih tema tentang perbedaan agama. Mereka menggarisbawahi pentingnya toleransi dan saling menghormati antar pemeluk agama. Komik yang mereka buat menggambarkan bagaimana persahabatan dan kebersamaan tetap bisa terjalin meskipun ada perbedaan keyakinan. Ada juga kelompok yang memilih masalah perbedaan fisik. Dalam komik mereka, mereka menyoroti betapa pentingnya menghentikan perundungan berbasis fisik dan mengajak siswa untuk lebih sensitif terhadap isu-isu kecantikan yang sering kali menjadi sumber tekanan bagi teman-teman mereka. Antusiasme siswa dalam membuat komik sangat menarik. Mereka menggunakan imajinasi dan kreativita untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang menerima perbedaan dengan lebih baik. Sae Penggalih, S.Pd. dengan penuh semangat mendukung setiap langkah mereka, memberikan panduan dan dorongan agar komik yang dihasilkan dapat memiliki dampak yang lebih besar di kalangan teman-teman sebayanya.

Dalam prosesnya, siswa juga belajar tentang kekuatan narasi visual. Mereka menyadari bagaimana gambar dan kata-kata dapat bekerja sama untuk menyampaikan pesan secara lebih efektif. Lebih dari itu, mereka menyaksikan bagaimana komik dapat menjadi alat yang kuat untuk merangkul perbedaan dan membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Kelas Sosiologi di SMA Negeri 11 Semarang yang diampu oleh Sae Penggalih, S.Pd. bukan hanya menjadi wadah untuk memahami teori-teori sosiologi, tetapi juga menjadi ajang untuk mendorong siswa untuk berbicara tentang isu-isu sosial yang relevan dengan mereka. Melalui komik, siswa menggali kebaikan dalam perbedaan dan menjadi agen perubahan positif di lingkungan mereka. Dengan pendekatan yang inovatif, Sae berharap para siswa dapat terus membawa pesan-pesan penting ini ke dalam kehidupan sehari-hari dan berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai perbedaan. Semoga apa yang dilakukan oleh Sae dalam kelas Sosiologi dapat menjadi contoh bagi pendidik-pendidik lainnya sekaligus menjadi bukti nyata dari sekolah yang berfokus pada perwujudan lingkungan yang damai dan inklusif serta menjadikan SMAN 11 Semarang lebih baik dan lebih tangguh.

 

Penulis : Ardian W. Nirmala, S.Psi., Tim Humas SMAN 11 Semarang

Editor : Nurul Rahmawati, M.Pd., Guru SMKN 1 Bawen