CGP Angkatan 9 Sosialisasikan Budaya Positif di SMAN 16 Semarang

Program pendidikan guru penggerak adalah program pendidikan kepimimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 6 bulan bagi CPG atau Calon Guru Penggerak. Saat ini program pendidikan guru penggerak sudah berjalan hingga angkatan ke 9. Guru penggerak memiliki peran yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, dan mewujudkan kepemimpinan murid (student agency). Saya sebagai calon guru penggerak angkatan 9 mencoba untuk mengimplementasikan salah satu peran guru penggerak di SMA Negeri 16 Semarang yaitu menjadi coach bagi guru lain dengan melaksanakan kegiatan desiminasi berupa sosialisasi budaya positif di sekolah.

Desiminasi sosialisasi budaya positif yang bertempat di Laboratorium Biologi SMA Negeri 16 Semarang dilaksanakan pada Selasa, 17 Oktober 2023. Kegiatan ini dihadiri oleh 12 orang guru dan 1 karyawan SMA Negeri 16 Semarang. Materi yang disampaikan oleh calon guru penggerak adalah materi tentang budaya positif yang telah dipelajarinya pada modul 1.4 program pendidikan guru penggerak. Kegiatan desiminasi sosialisasi budaya positif di SMA Negeri 16 Semarang bertujuan meningkatkan pemahaman guru dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 16 Semarang untuk menciptakan budaya positif di sekolah, dan menciptakan motivasi internal guru dan tenaga kependidikan agar mau menciptakan budaya positif di sekolah.

Calon guru penggerak menyampaikan bahwa untuk menciptakan budaya positif di sekolah yang perlu warga sekolah lakukan pertama kali yaitu mengubah paradigma belajarnya. Jika paradigma yang selama ini diterapkan adalah paradigma stimulus respon warga sekolah perlu beralih ke paradigma teori kontrol. Pandangan tentang dunia pada teori kontrol menganggap bahwa 1) Kebutuhan Setiap orang berbeda; 2) Setiap orang memiliki gambaran berbeda; 3) Kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia; 4) Setiap perilaku memiliki tujuan atau alasan. Sekalipun perilaku tersebut suatu kesalahan; 5) Hanya anda yang mampu mengontrol diri anda, orang lain tidak dapat mengontrol anda; dan 6) Kolaborasi dan konsesus akan memunculkan pilihan-pilihan baru. Seorang murid melakukan suatu kesalahan bisa jadi karena belum terpenuhinya kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk bertahan hidup, kebutuhan untuk memperoleh pengakuan atas kemampuan, kebutuhan untuk mendapat kasih sayang dan rasa diterima, kebutuhan untuk kesenangan dan kebutuhan untuk kebebasan. Misalnya jika guru melihat salah satu muridnya bosan terlihat bermalas-malasan di dalam kelas bisa jadi karena kebutuhannya akan kesenangan belum terpenuhi.

Selain membahas mengenai perubahan paradigma belajar, calon guru penggerak juga memaparkan mengenai disiplin positif. Kata disiplin seringkali dikaitkan dengan tata tertib, teratur dan kepatuhan terhadap peraturan. Bahkan disiplin sering dihubungkan dengan hukuman. Padahal untuk menciptakan disiplin belajar tidak perlu memberikan hukuman. Menurut Ki Hajar Dewantara untuk menciptakan murid yang merdeka harus memiliki disiplin yang kuat. Disiplin yang kuat berasal dari motivasi internal seseorang. Tujuan menerapkan disiplin positif adalah untuk menanamkan motivasi yang ketiga yaitu motivasi untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Ketika murid-murid memiliki motivasi tersebut mereka telah memiliki motivasi internal yang berdampak jangka panjang dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan universal.

Setelah bapak atau ibu guru mengubah paradigma dari stimulus-respon menjadi teori kontrol, memahami kebutuhan dasar manusia, memahami konsep disiplin positif, memahami motivasi perilaku manusia, dan memahami perbedaan hukuma; konsekuensi; restitusi, serta mengetahui posisi guru dalam restitusi. Selanjutnya untuk menciptakan budaya positif bisa dengan membuat keyakinan kelas. Menurut Gossen (1998) suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih bersemangat untuk menjalankan keyakinannya daripada hanya sekder mengikuti peraturan. Bapak, Ibu guru dan karyawan peserta diseminasi juga diajak untuk bermain peran menerapkan langkah-langkah segitiga restitusi sehingga memberikan semangat dan gambaran sebelum nantinya menerapkan segitiga restitusi kepada murid-muridnya. Calon guru penggerak berharap ke depannya budaya positif ini bisa diterapkan oleh seluruh warga SMA Negeri 16 Semarang.

 

Penulis : Atsni Wahyu Lestari, S.Pd., Guru SMAN 16 Semarang

Editor : Nurul Rahmawati, M.Pd., Guru SMKN 1 Tuntang