Penggunaan Bahasa Asing terhadap Jati Diri Bahasa Indonesia di Kalangan Siswa Abad XXI

Manusia sebagai mahkluk sosial sangat membutuhkan interaksi dalam berkehidupan. Dalam berinteraksi tentu memerlukan bahasa untuk menyampaikan pesan dan pikiran kepada lawan bicara. Di Indonesia terdapat banyak suku daerah sehingga beragam pula bahasa yang terdapat Indonesia. Hal ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sekaligus bahasa pemersatu, lambang kebanggaan kebangsaan, alat komunikasi serta alat pemersatu bangsa yang berbeda   suku,   agama, ras, adat istiadat, dan budaya. Namun, terlihat   fenomena   bahasa Indonesia di kalangan masyarakat semakin luntur seiring perkembangan zaman terutama pada kalangan siswa. Lunturnya bahasa Indonesia ini diakibatkan pembiasaan sejak kecil menggunakan bahasa asing, sehingga terkadang   mereka   awam   akan   bahasa   nasional   ini.  

Peran Bahasa Indonesia bagi Negara Republik Indonesia

Secara politis bahasa Indonesia lahir melalui sebuah sumpah yang diikrarkan pada Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, yang terkenal dengan nama Sumpah Pemuda. Sumpah Pemudalah yang menjadi tonggak sejarah pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia pada masa-masa berikutnya. Bahasa Indonesia memiliki peran penting bagi Negara Republik Indonesia, yakni sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Selain karena   tertuangnya   dalam   ikrar   sumpah   pemuda,   alasan   menjadikan bahasa   Indonesia   sebagai   bahasa   nasional   adalah   karena   bahasa   Indonesia   masih digunakan   hingga  sekarang.   Berbeda dengan negara-negara lain yang harus menggunakan bahasa negara persemakmurannya misalnya Malaysia, India, dan lainnya yang   harus   bisa   menggunakan   bahasa   Inggris.   Kemudian   bahasa   Indonesia   juga digunakan dalam berbagai macam media komunikasi, misalnya koran, buku, televisi, radio, serta pada kegiatan belajar mengajar. Pembuktian dari peran bahasa Indonesia ini adalah digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah Proklamasi RI tahun 1945. Sejak saat itulah penggunaan bahasa Indonesia berlanjut   hingga   sekarang,   yang   biasanya   digunakan   dalam   upacara   dan   kegiatan ketatanegaraan baik secara lisan maupun tulisan.

Fenomena Penggunaan Bahasa Asing Di kalangan Siswa Indonesia Sekarang

Bangsa Indonesia sebagai pemakai bahasa Indonesia seharusnya bangga memakai bahasa. Namun, sebagian masyarakat Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia karena menganggap sudah menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Dengan bahasa Indonesia   mereka   bisa   menyampaikan   perasaan   dengan   sempurna   dan lengkap   kepada   lawan   tutur.   Mereka   semestinya   bangga   memiliki   bahasa   yang   sedemikian tersebut. Namun, kenyataannya adalah tidak demikian. Rasa bangga berbahasa Indonesia tidak lagi tertanam   dalam   setiap   orang   Indonesia.  Rasa menghargai bahasa asing masih terus lebih dominan dan dianggap derajatnya lebih tinggi daripada bahasa Indonesia. Bahkan, mereka seolah tidak tahu perkembangan bahasa Indonesia.

Dampak Penggunaan Bahasa Asing Terhadap Jati Diri Bahasa Indonesia

Bahasa   bila   dianggap   sebagai   entitas   organik   seperti   manusia,   anggapan   tentang keorganikan bahasa itu sendiri memang telah lama menjadi perdebatan linguis. Bahasa dapat mati karena tekanan-tekanan bahasa lain yang hidup bersamanya atau mungkin bahasa lain yang hidup membawahinya. Kelebihan dalam peran dan fungsi akan menentukan apakah bahasa lain masih diperkenankan ikut bergerak dan bergeliat atau malahan ditutup kesempatannya dan dihilangkan sama sekali peran dan fungsinya oleh bahasa yang lebih kuat. Bahasa Indonesia saat ini sedang bersaing bersama bahasa asing untuk memperebutkan posisi terkuat di bangsanya sendiri yakni Indonesia. Tapi, bahasa Indonesia tampak tak terlihat   digunakan   bahkan   dicampakkan   oleh pemiliknya. Sehingga terlihat jelas   bahasa Indonesia   memiliki   peran dan fungsi yang teramat lemah di masyarakat. Sebagian besar dari masyarakat mengeluh akan eksistensi bahasa Indonesia itu sendiri dan kubur kematiannya.

Upaya Agar Kalangan Siswa untuk Mencintai Bahasa Indonesia

Dalam era globalisasi ini, jati diri bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan oleh setiap warga negara Indonesia. Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia tidak terbawa oleh arus   dan   pengaruh   budaya   asing   yang   sangat   jelas   tidak   sesuai   dengan   bahasa   dan budaya Indonesia. Pengaruh alat komunikasi yang begitu canggih dihadapi dengan mempertahankan jati diri bangsa Indonesia, termasuk jati diri bahasa Indonesia. Sudah pasti karena ini menyangkut tentang kedisiplinan berbahasa nasional, yaitu pematuhan aturan yag berlaku. Dengan kata lain, pemakaian bahasa Indonesia yang disiplin adalah pemakaian yang patuh terhadap semua kaidah dan pedoman pemakaian bahasa Indonesia. Menurut Wijana (2018: 92-95) terdapat usaha-usaha untuk   melestarikan   penggunaan   bahasa   Indonesia   diantaranya: (1) Memupuk kebanggaan berbahasa Indonesia; (2) Memberdayakan potensi bahasa daerah sebagai sumber pengayaan kosa kata bahasa Indonesia. Memiliki kesadaran untuk bangga dalam menggunakan bahasa Indonesia merupakan salah satu cara   mengembangkan   pemakaian   bahasa   Indonesia.   Kebanggaan   dalam berbahasa Indonesia harus ditumbuhkan sejak dini.

Pengaruh bahasa asing yang begitu besar terhadap bahasa-bahasa lain. Hal ini perlu diwaspadai agar bahasa Indonesia maupun bahasa daerah tidak semakin tersingkirkan. Sebagai   kalangan   muda   haruslah   menumbuhkan   dan   membina   sikap   positif   terhadap bahasa Indonesia itu sendiri. Sikap kesetiaan berbahasa Indonesia terungkap jika mereka lebih suka memakai bahasa Indonesia daripada bahasa asing dan bersedia menjaga agar pengaruh asing tidak   terlalu   berlebihan.   Sikap   kebanggaan   berbahasa   Indonesia   terungkap   melalui   kesadaran bahwa bahasa Indonesia pun mampu mengungkapkan konsep yang rumit secara cermat dan dapat mengungkapkan   isi   hati   yang   sehalus-halusnya.   Yang   perlu   dipahami   adalah   sikap   positif terhadap   bahasa   Indonesia   ini   tidak   berarti   sikap   berbahasa   yang   tertutup   dan   kaku.  

Bangsa Indonesia   tidak   mungkin   menuntut   kemurnian   bahasa   Indonesia   dan   menutup diri dari  saling pengaruh dengan bahasa asing. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus bisa membedakan mana pengaruh   positif   dan   mana   pengaruh   negatif   terhadap   perkembangan   bahasa   Indonesia.   Sikap positif   seperti   inilah   yang   bisa   menanamkan   percaya   diri   kalangan   siswa  bahwa   bahasa Indonesia itu tidak ada bedanya dengan bahasa asing lain. Masing-masing bahasa mempunyai kekurangan   dan   kelebihan.   Dengan   sikap   positif   yang   diberikan   oleh   kalangan   siswa   ini tentunya akan membantu bangsa Indonesia dalam mempertahankan bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia itu sendiri mampu bertahan dari pengaruh negatif asing.

Oleh karena itu, era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antara bangsa yang sangat rumit. Peranan bahasa dalam kehidupan manusia besar sekali. Hampir dalam semua kegiatan, manusia memerlukan bantuan bahasa. Pada era MEA saat ini bahasa menjadi faktor penting dalam berkomunikasi (Rondiyah, Wardani, & Saddhono, 2017:142).   Oleh   karena   itu,   bangsa   Indonesia   harus   menyiapkan   diri   dengan   baik   dan   penuh perhitungan. Salah satu hal yang diperhatikan masalah jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui jati   diri   bahasa.   Maka,  menjadi   tugas   utama   dari   kalangan   muda (siswa)  bangsa   Indonesia dikarenakan merekalah yang menjadi acuan pemimpin bangsa di masa depan. Sehingga   sangat   diperlukan   bantuan   dari   kalangan   muda   untuk   membina   dan   menumbuhkan kecintaan   terhadap   bahasa   Indonesia.   Tentunya   ini   bertujuan   agar   bahasa   Indonesia   yang merupakan bahasa nasional tidaklah punah di tempat tinggalnya sendiri. Kalangan muda harus mampu menyaring pengaruh asing masuk, sehingga tidak merusak hingga melunturkan bahasa Indonesia yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Mari sebagai generasi milenial, utamakan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, dan lestarikan bahasa daerah.

 

“SMK Negeri 10 Semarang, dari Semarang untuk Indonesia”

Penulis: Bagus Juniarto Wibowo, S.Pd., M.Pd.,. Guru PPL PPG Mapel Bahasa Indonesia

Editor: Tim Humas